π΄ Raden Saleh Sjarif Boestaman
Terlahir dari keluarga ningrat serta keramahannya membuat ia mudah masuk ke lingkungan Belanda. Sejak awal banyak kalangan Belanda yang suka akan hasil lukisan beliau yang beraliran realis - romantis maka Pak Raden Saleh berkesempatan untuk bersekolah seni di Eropa. Beberapa Gubernur Jenderal Hindia-Belanda pernah dilukis olehnya, HW Daendels, J. Crieten Naif, J. Van Den Bosch.
Tapi beliau juga menyaksikan penderitaan rakyat Indonesia akan praktek kolonial Belanda.
Tahun 1835 Nicolaas Pieneman membuat lukisan "Penyerahan diri Diponegoro" Diksi dalam judul lukisan serta gambaran deskriptif yang ada di lukisan Pieneman menggambarkan Pangeran Diponegoro dengan raut wajah sayu seolah tak berdaya di hadapan Jenderal De Kock.
Padahal dalam realitas sejarah, Pangeran Diponegoro tak pernah melakukan penyerahan diri apalagi merasa takut berhadapan langsung dengan De Kock.
Hal inilah yang kemudian dibalas oleh beliau dengan membuat lukisan tandingannya. Dalam lukisan karyanya, "Penangkapan Pangeran Diponegoro" digambarkan dengan busungan dada sang pangeran seolah menarasikan perlawanan head to head dengan De Kock.
Dalam lukisan tersebut Raden Saleh menggambarkan orang-orang Belanda dengan proporsi badan yang tidak baik seakan seperti orang cebol, menyelipkan gambar wajahnya sendiri di bagian para pengikut Diponegoro dalam lukisan tersebut sebagai tanda keberpihakannya dan pandangannya terhadap kolonial. Belum lagi kritikan yang 'keras' dilakukannya dengan menghadiahkan lukisan tersebut pada Raja Willem III seakan ingin mengolok-olok perilaku tak pantas pemerintah kolonial
π΄Sumber : republika.co.id & sindonews.com
π΄ Foto diwarnai oleh : @mewarnaifotojadoel
Posting Komentar untuk "π΄ Raden Saleh Sjarif Boestaman"